Banner

=SENANTIASA PERERAT TALI PERSAUDARAAN & KEBERSAMAAN=
Tampilkan postingan dengan label Info Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Umum. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 September 2013

Dongeng Buah dari Blusukan 10 Tahun Yang Lalu...

Ternyata 10 tahun yang lalu yang terhormat pejabat tinggi kita, Sekda DIY sudah blusukan ke kampung kita Lur.. Beliau memberikan harapan yang meyakinkan terhadap kondisi kampung kita terutama masalah air bersih dan infrastruktur desa.  Setelah menanti 10 tahun pa yang terjadi dengan kampung kita ini ???? ini seperti sebuah dongeng sebelum tidur saja. Update per September 2013 kemarin, kita masih beli air tengki, jalan belum aspal, ya..sepertinya nggak jauh beda sama kondisi saat beliau blusukan 10 tahun yang lalu..iya apa iya Lur..
Berikut copy paste berita nya secara lengkap yg dimuat di Harian Online Suara Merdeka :
Jumat, 15 Agustus 2003 Jawa Tengah - Kedu & DIY
Line

Pejabat Trenyuh Melihat Kondisi Gunungkidul Bagian Selatan

SEJUMLAH pejabat instansi terkait di bawah koordinasi Sekretaris Daerah (Sekda) DIY terkejut setelah melihat kenyataan kekeringan di kawasan Gunungkidul bagian selatan. Pipa air yang disediakan selama ini sama sekali tidak berfungsi, sehingga ada kesan menjadi monumen pipa.

Rasa kaget belum usai, sejumlah pejabat Pemprov DIY yang mengadakan inspeksi mendadak di daerah kering itu dikejutkan dengan sejumlah SD yang mewajibkan memakai buku pelajaran dari sebuah penerbit dengan harga yang relatif mahal, Rp 90.000/buku.

Berbagai kebijakan yang ditemukan di lapangan itu membuat sejumlah pejabat hanya bisa geleng-geleng kepala. Sebab, berbagai penemuan yang menjadi beban masyarakat itu sama sekali di luar kebijakan Pemprov DIY.

Sehubungan dengan hal itu, Sekda DIY Ir Bambang Susanto Priyohadi MPA yang mengadakan kunjungan mendadak ke Desa Karangwuni, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunungkidul seolah tidak mampu berbicara karena merasa kasihan dan trenyuh melihat kenyataan tersebut. Dia datang bersama Kepala Dinas Pendidikan Ir Suhadi, Kasubdin Pengairan Ir Joko Sasongko, dan pejabat eselon dari sejumlah instansi.

Bak penampungan air yang dibangun warga pun tidak pernah terisi. Beberapa bangunan bak penampungan air berdiri tegak bagai sebuah tugu peringatan yang tak bermakna, karena sejak musim kemarau tiba sama sekali tak berisi air. Telaga yang selama ini menjadi satu-satunya sumber kehidupan juga kering tak berair.

Ketika rombongan berhenti di sebuah SD, Kepala Dinas Pendidikan DIY Ir Suhadi menemukan berbagai kejanggalan. Selain sekolah tersebut kekurangan sarana pendidikan, rombongan juga menemukan adanya anjuran dari sebuah sekolah yang mewajibkan menggunakan buku pelajaran dari sebuah penerbitan dengan harga yang relatif mahal.

Berbagai persoalan itu semakin jelas ketika rombongan singgah di Desa Karangwuni, Rongkop, Kabupaten Gunungkidul (desa perbatasan antara Gunungkidul dan Pracimantoro, Wonogiri).

Sampaikan Persoalan

Rombongan diterima Kepala Desa Karangwuni Suwarno beserta staf dan tokoh masyarakat serta beberapa warga. Di hadapan rombongan, Suwarno menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini dihadapi warga, antara lain menyangkut kekurangan air bersih, pengaspalan jalan desa tembus Pracimantoro yang tidak dilanjutkan, dan masalah pendidikan anak.

Di desa tersebut terdapat dua SD, satu SLTP, dan satu SMU. Jarak antarsekolah cukup jauh. Desa Karangwuni dihuni 545 keluarga dengan jumlah penduduk lebih kurang 8.000 jiwa. Dari jumlah itu, warga yang tidak mampu adalah 235 orang.

Dengan perincian, siswa tidak mampu untuk tingkat SD 152 orang, SLTP 57 orang, dan SMU/SMK 21 orang. ''Kondisi siswa tidak mampu, betul-betul memprihatinkan. Padahal, minat belajar anak-anak tinggi,'' jelas Kades Suwarno.

Belum lagi masalah penurunan hasil panen gaplek dan kesulitan masyarakat mendapatkan air bersih. ''Karena itu, kami memohon bapak-bapak dapat membantu menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi warga. Kalau bisa, tolong kami dibuatkan embung telaga (telaga permanen),'' pinta Suwarno.

Setelah melihat berbagai permasalahan yang menimpa desa tersebut, Sekda mengutarakan, Pemprov segera akan menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menanggulangi kekeringan di Gunungkidul, khususnya di Desa Karangwuni.

Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah pengerukan telaga. Selain itu, Pemprov juga akan menggunakan listrik untuk memfungsikan pompa air. Pompa itu nantinya akan beroperasi 24 jam. ''Untuk menyedot sumber air dari Gua Bribin, nantinya sudah tidak lagi pakai mesin diesel. Namun sudah menggunakan listrik yang berkekuatan tinggi,'' paparnya.

Program pengentasan rakyat dari kekeringan di kawasan Gunungkidul itu nantinya akan bekerja sama dengan Pemerintah Jerman. Sekarang ini sedang disurvei, dengan harapan pada 2004 sudah beroperasi.(Sugiarto-81j)
 

Senin, 05 Maret 2012

Daun yang Meneduhkan


Daun bagian dari tumbuhan, bentuknya biasanya melebar tapi ada juga yang panjang, sesuai dengan fungsi dan sifatnya, mulai sebesar daun pisang hingga sekecil duri kaktus. Hijaunya daun menyejukkan mata dan meneduhkan dari terik matahari. Daun cermin kemandirian dapat memproduksi makanan sendiri. Kecerdasan daun terlihat dari kepandainnya menyesuaikan diri. Di daerah segersang padang pasir ia menjelma kaktus. Di atas air, ia mengambang jadi teratai. Kemandirian daun tidak menunggu dewasa ia sudah dapat melakukan fotosintesis, sesaat tunas itu tumbuh.
Daun tidak egois energi dan makanan hasil fotosintesis, dialirkan ke seluruh bagian tumbuhan. Daun tak lupa diri, ia menyadari bahwa ia ada berkat dukungan yang lain juga. Lihatlah, semakin rimbun daun, semakin kokoh akar yang menyerap air dan sari pati makanan, serta semakin kuat pula batang yang menyalurkannya.
Alam seisinya tak ada yang sia-sia. Belajarlah dari daun yang yang mengubah keburukan menjadi kebaikan. Zat asam arang yang berbahaya diubah (fotosintesa) menjadi oksigen dan energi yang bermanfaat.
Daun hidup dengan pola harmoni, Karenanya ia tidak layu karena kelebihan berproduksi atau pucat karena kurang asupan makanan. Daun terus bermanfaat hingga akhir hayat. Sebelum mati, lebih dulu membentuk tunas baru. Seperti pohon jati yang melepas daun agar tak kekurangan air. Terlepasnya dari pokok pohon, menjadi pupuk yang menyuburkan.
Banyak sekali manfaat daun, tidak hanya bagi tumbuhan yang ditinggalinya. Mulai dari hewan dan manusia yang menghirup oksigen hasil fotosintesis, menjadi lalapan, sebagai bahan obat, hingga pembungkus. Daun itu indah, dengan beragam bentuk dan corak warna, menjadikan tumbuhan dan pepohonan tampak lebih hidup. Daun itu menyejukkan. Mengayomi dan menentramkan.
Namun hati – hati, ada pula daun yang berduri, membuat gatal, beracun ataupun menyebarkan bau busuk. Yang jelas, rahasia ini kita tidak tahu, bagi manusia mungkin tidak atau belum diketahui manfaatnya. Tapi bagi mahluk lain bisa saja manfaatnya sangat besar.   (Eman Mulyatman)